OIL PRICE WAR DAN KONSEKUENSI EKONOMI DI TENGAH PANDEMIK COVID-19

Sabtu, 14 Maret 2020 09:42

Oleh: Achmad Nur Hidayat
Kepala Analis Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)

BUKAMATA – Fenomena Ekonomi: Ultimate Perfect Storm

Setelah diumumkan WHO bahwa status COVID 19 menjadi pandemik, ekonomi juga mengalami kejatuhan harga minyak dan kejatuhan harga saham dunia;  Tiga fenomena dunia tersebut (status pandemik COVID-19, kejatuhan harga minyak dan kejatuan harga saham) dinamai fenomena ultimate perfect storm (badai besar yang sempurna) oleh para media internasional dan dikhawatirkan dapat menggangu pertumbuhan ekonomi dunia secara drastis.
Penurunan harga minyak pada Senin (9/3/2020), merupakan penurunan terbesar dalam sehari sejak tahun 1991. Pada hari itu minyak mentah dunia (crude oil) turun hampir 26% menjadi US$ 31,13 per barel.  Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, jatuh 24% menjadi US$ 33,36 per barel. Sempat naik tipis namun pada Kamis (12/3) harga minyak tercatat jatuh lagi 4.2% dari hari sebelumnya ke posisi US$ 31,60 per barel. Minyak mentah Brent jatuh 8% menjadi US$ 32,97 per barel.
Ekonomi dunia benar-benar berada di situasi yang mengkhawatirkan. Dibandingkan Januari 2020, kini harga minyak sudah turun hampir 50% dan menurut catatan Ruetuers harga Kamis (12/3) adalah harga terburuk sejak perang teluk Irak-Iran 29 tahun lalu.
Banyak analis mengatakan bahwa kejatuhan minyak tersebut adalah konsekuensi duel Saudi-Rusia (oil price war) atas ketidaksepakatan volume produksi minyak, sementara media AS menyebutkan bahwa kejatuhan harga minyak tersebut adalah cara Rusia untuk menyerang Shale Oil Amerika. Peristiwa ekonomi global minyak seringkali dijadikan alasan politik untuk target tertentu.

Patut diingat bahwa biaya produksi AS shale oil lebih mahal yaitu 23.35 USD/barel daripada biaya produksi minyak Rusia 19.21/barel, minyak Iran 9.08/barel dan minyak Saudi 8.98/barel. Jadi apa alasan kejatuhan harga minyak dan bagaimana konsekuensinya untuk perekonomian?

Penyebab dan Target Perang Harga Minyak (Oil Price War)

Kenyataannya, jatuhnya harga minyak karena ketidaksepakatan antara anggota OPEC dalam memutuskan pengurangan volume produksi minyak dalam KTT OPEC di WIna pada Jumat (6/3) lalu.

Rusia berpendapat beda dengan mayoritas anggota OPEC. OPEC yang dipimpin oleh Saudi meminta produksi dikurangi 1.5 juta barel per hari sampai akhir Juni 2020 sebagai balancing permintaan minyak yang melemah akibat pandemik corona. Pengurangan produksi diharapkan harga minyak dunia tetap kompetitif. Rusia menyatakan decending opinion atas penurunan produksi minyak. Rusia berkenyakinan produksi minyak yang berkurang akan mengganggu stabilitas ekonomi dalam negeri rusia akibat embargo AS tahun lalu terhadap rencana ekspansi Rusia di Nord Stream dan Turki Stream.
Rusia dan Saudi sebenarnya telah saling komunikasi dan bekerja sama dalam OPEC Alliance dan hal mengatur harga minyak setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Setiap KTT OPEC Alliance, Saudi-Rusia selalu dalam sikap yang sama sampai KTT di Wina Jumat lalu.

Kemudian Saudi atas perintah putra mahkota Muhammad bin Salman (MBS) memerintahkan Menteri Minyak Saudi untuk menyikapi Rusia, dengan memerintahkan Aramco menaikan produksi minyaknya dari 12 juta barel menjadi 13 juta barel per hari. Rusia membalas ekonomi rusia siap dengan harga rendah selama 10 tahun kedepan. Hasilnya adalah harga minyak global jatuh karena over suplai terutama minyak dari Saudi dan Rusia.

Muhamad Bin Salman (MBS) Saudi melakukan tindakan tidak wajar tersebut tanpa pertimbangan matang, tepatnya dikatakan MBS sedang berjudi dengan taruhan yang besar. Seolah tujuan Saudi yang membuat penurunan harga minyak drastis dan cepat agar semua pihak kembali ke meja perundingan tapi dengan harga yang terlalu besar yaitu ekonomi Saudi sendiri. Hal tersebut mengingat lebih dari 87% ekonomi saudi tergantung dari minyak bandingkan Rusia hanya 37% ekonomi Rusia berpengaruh dari minyak.

Dalam perang harga minyak tersebut terlihat Saudi tidak akan mampu bermain waktu panjang karena harga minyak yang rendah dapat menggangu bagi pembangunan dan visi perubahan 2030 Saudi sendiri. Hal tersebut seperti bumerang bagi keberlanjutan kerajaan Saudi di masa depan.

Media internasional seperti CNN dan Reuters pada Kamis (12/3) menuduh MBS Putra Mahkota Saudi bersama Putin Presiden Rusia sedang mentarget AS Shale Oil pada perang harga minyak.
Gagasan bahwa perang harga Minyak (Oil Price War) Saudi-Iran dirancang khusus untuk menargetkan AS Shale Oil adalah tidak tepat. Perang tersebut tidak punya tujuan spesifik, selain yang pasti perang minyak menyebabkan keruntuhan pasar saham dan keuangan di seluruh dunia.

Pasar Saham Rontok

Meskipun pada selasa 10/03 Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan Rusia membuka pintu terhadap kembali dimulainya perundingan antara Moskow dan Riyadh, namun harga minyak tidak naik normal bahkan saham dunia berjatuhan.
Pada Kamis (12/3), Pasar saham Dow Jones turun 18% dihitung sejak awal tahun 2020, begitu juga Nasdaq (-19%), Nikkei 225 Jepang (-19.7%), FTSE Inggris (-22.5%), STI Singapura (-17%), KOSPI Korea (-16%). Dua pasar saham yang paling buruk kinerja yaitu FTSE MIB, bursa saham Italia sejak awal tahun anjlok hingga -24,8%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyusul dengan penurunan hingga -22% (ytd) dan Rupiah anjlok ke level Rp14,810 pada pukul 10.00 Jumat (13/3).

Alasan penurunan tersebut adalah ketidakpastian kondisi global membuat panik investor, Saham Italia rontok juga disebabkan masifnya korban terinfeksi COVID-19, di Indonesia investor asing melakukan profit taking di dua tempat yaitu pasar saham dan pasar SBN.

Kita apresiasi atas respon cepat pemerintah dan Bank Indonesia yang melakukan triple intervention moneter sehingga rupiah tertahan tidak tembus Rp15.000/USD. Bila kedua otoritas tidak antisipatif, maka rupiah dapat tembus Rp15.000 di perdagangan Jumat yang lalu.

Kesiagaan stimulus fiskal yang diumumkan Sri Mulyani dan Airlangga Menko Perekomomian juga tepat waktu sehingga IHSG sempat membaik dipenutupan Jumat sore.

Perang Minyak Rusia-Saudi Siapa yang Akan Menang?

Kedua produsen minyak Rusia dan Saudi sebenarnya punya tujuan yang sama yaitu bagaimana agar harga minyak tetap tinggi untuk membiayai operasional negara.
Sebuah analisis mengatakan bahwa Rusia membutuhkan harga minyak 55 USD/barel dan Saudi membutuhkan harga minyak 80 USD/barel untuk memastikan program pembangunan dan visi ekonomi berjalan sesuai harapan masing-masing pada tahun 2021. Namun siapa yang dapat bertahan dengan harga minyak 33 Usd/barel saat ini?
Biaya produksi minyak yang paling rendah saat ini adalah Saudi (8.98/barel) dan saudi memiliki keunggulan absolut dari Rusia (cost production 19.21/barel). Kedua negara tersebut diprediksi masih dapat mengkompensasi harga minyak 35 USD/barel. Namun untuk jangka waktu berapa lama? Harga yang rendah harus dikompensasi dengan pasar yang loyal untuk volume eksta produksi jika ingin bertahan lama dan menang dalam perang tersebut?

Rusia memiliki potensi pasar untuk menjual ektra produksinya melalui proyek pipa minyak baru yaitu pipa Turki Stream dan pipa Nord Stream-2. Pipa Turki stream selesai tepat waktu dan sudah mengirim energi dari Rusia ke Turki dan Eropa bagian Selatan saat ini.

Meskipun Proyek Nord Stream-2 terganggu karena Denmark memprotes persoalan lingkungan. Gazprom, perusahan minyak negara Rusia tetap berusaha menyelesaikannya akhir tahun ini sehingga pengiriman energi dari Moskow ke Greenland dan Eropa Utara tidak akan terhambat lagi. Selama Nord Stream belum selesai, pengangkutan energi Rusia menggunakan fasilitas wilayah Ukraina. Posisi Moskow atas pasar energi Eropa Utara, Turki dan Eropa Selatan masih utuh dan merupakan ancaman bagi rencana AS untuk mendorong pasar minyaknya di Eropa.

Tanda-tanda mereda perang minyak Rusia-Saudi nampaknya belum terlihat. CEO Gazprom Neft Alexander Dyukov bertemu dengan Menteri Energi Rusia (12/03) dengan mengatakan bahwa harga 35 USD/barel masih aman bagi perusahaan minyak terbesar ketiga didunia itu. Bahkan terdapat rencana untuk meningkatkan produksi minyak sampai 40,000-50,000 barel per hari di awal April 2020. Perusahaan Rusia tersebut tidak memiliki batasan produksi dan tidak lagi khawatir dengan menjual volume minyak ekstra.

Dalam analisis tersebut, kelihatannya Rusia jauh lebih solid dalam mempersiapkan era harga minyak rendah. Saudi dengan Aramco yang telah IPO-nya harus ekstra hati-hati di saat pasar saham rontok. Modal Aramco bisa jadi terganggu manakala saham rontok dan ekonomi Saudi memiliki ketergantungan 87% terhadap penerimaan minyak. Harga minyak yang rendah membuat negara kesulitan membiayai pembangunannya.
Perang Harga Minyak (Oil Price War) dan Konsekuensinya terhadap Ekonomi
Jelas sekali bahwa rezim harga minyak rendah sekitar 35 USD/barel masih akan terus berlangsung setidaknya 3-6 bulan ke depan. Periode tersebut dapat cepat atau lambat berakhir tergantung seberapa cepat perang produksi oil Rusia-Saudi mereda.
Bagi dunia keuangan, harga minyak rendah yang terlalu lama mengakibatkan potensi kerugian yang besar. Terdapat analisis jika dalam waktu 6 bulan ke depan harga minyak dunia tetap dibawah 40 USD/barel maka sektor keuangan dunia akan krisis serupa 2007/2008 karena secara total terdapat 1.9 triliun USD investasi/utang yang tergantung dengan harga minyak.
Harga minyak yang rendah akan membuat surat berharga sektor migas yang tadinya grade investment triple A menjadi grade junk and toxid (sampah).

Rusaknya pasar keuangan migas tersebut akan mirip dengan krisis subtmorgage 2007/2008 dimana investasi perumahan yang tadinya triple A berubah menjadi investasi sampah (junk) dan meruntuhkan ekonomi dunia.

Harga minyak yang terlalu rendah juga akan membuat investasi Amerika dalam Shale Oil (cost production 23.35 USD/barel) akan terhenti. Padahal AS Shale oil merupakan andalan AS untuk keluar dari ketergantungan minyak global khususnya dari Saudi dan Rusia.

Bagi Indonesia yang bukan anggota OPEC, harga minyak yang rendah memiliki plus dan minus. Plus karena harga impor minyak untuk keperluan konsumsi lebih rendah. Negatif karena penerimaan negara dari lifting minyak menjadi semakin rendah. Tendensi keuntungan maupun kerugiannya tergantung seberapa besar kebutuhan konsumsi dibagi penerimaan lifting minyak.
Namun ada resiko tail effect dari harga minyak yang rendah tersebut yaitu harga CPO (minyak sawit) menjadi ikut turun. Padahal produksi minyak sawit merupakan komoditas ekpor terbesar Indonesia saat ini. Harga yang rendah akan menambah beban neraca perdagangan dan memperlebar defisit transaksi berjalan.
Berdasarkan analisis diatas, terjadinya perang harga minyak ditambah merebaknya wabah COVID-19 membuat rentan tidak hanya sisi perdagangan internasional melainkan juga sisi keuangan internasional.

Harga minyak yang terlalu lama rendah berpotensi menyebabkan krisis keuangan kembali terjadi. Indonesia perlu ektra waspada terhadap dua kerentanan yang ditimbulkan tersebut. Bila diperlukan Indonesia dapat mengambil inisiatif mendamaikan persaingan minyak  antara Rusia-Saudi tersebut demi kebaikan bersama ekonomi dunia. END



TERPOPULER