Tiga Skenario Ekonomi Hadapi Dampak Virus Corona

Rabu, 11 Maret 2020 17:00
Achmad Nur Hidayat.

Oleh: Achmad Nur Hidayat
Kepala Analis Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)

Perkembangan virus corona di Indonesia mengkhawatirkan. Jumlah yang terinjeksi virus corona terus menambah menjadi 27 orang. Bahkan tercatat, 1 orang telah meninggal dunia per hari ini, Rabu, 11 Maret 2020.

Transmisi dari manusia ke manusia terbukti kontributif dalam menambah jumlah korban yang kini mencapai 119,245 di 113 negara seluruh dunia (data per Rabu, 11 Maret 2020).

Situasi makin memburuk terutama di Italia, Korea Selatan dan Iran sementara di Wuhan, China sebagai pusat episentrum corona telah menunjukan penurunan yang signifikan.

Kenyataan tersebut menunjukan bahwa virus ini mewabah ditempat lain yang jauh dari asalnya sementara di tempat asalnya virus ini telah menunjukan relaksasinya.

China telah dianggap sigap dan tepat ketika melakukan kebijakan lockdown di awal-awal virus tersebut mewabah. Seandainya langkah tegas otoritas china tertunda dapat dibayangkan efek tularnya bisa meluas tak terkendali.

Tiga Skenario Ekonomi Atas Dampak Virus Corona

Terdapat tiga skenario virus corona yang kemungkinan dapat terjadi. Skenario pertama, Virus Corona meredam cepat di akhir Maret 2020. Ekonomi China pulih hampir 80%, para pekerja China sudah mulai aktif dan ekspor-impor daratan china berangsur pulih.

Transmisi virus corona di negara lain seperti Italia, Korea Selatan dan Iran dapat dikontrol dan vaksin virus ditemukan segera maka dampak ekonomi virus corona terbatas hanya di Q1 tahun 2020. Skenario ini membuat ekonomi dunia turun -0.08% atau kehilangan 76.6 miliar USD.

Skenario kedua, Virus Corona tidak mereda sampai Q3 (september) 2020 meskipun di Wuhan terjadi relaksasi. Negara Italia, Korea Selatan dan Iran terinfeksi lebih lanjut bahkan menyebar ke kawasan lain di Eropa, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Latin Amerika.

Tren penurunan Covid19 di Italia, Korsel dan Iran baru ditemui dipertengahan Q2 (Juli) 2020 maka ekonomi dunia dapat terjadi resesi dan pertumbuhan global turun 0.2% atau kehilangan 155 miliar USD. Skenario kedua ini yang paling mungkin terjadi.

Skenario ketiga adalah virus Corona tidak mereda sampai akhir 2020 meskipun di Wuhan dan daerah China lainnya terjadi relaksasi. Negara Italia, Korea Selatan dan Iran terinfeksi lebih lanjut dan peningkatan signifikan terjadi di Amerika Utara, Timur tengah bahkan menyebar tak terkendali di kawasan lain seperti Eropa, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Latin Amerika karena ketidakmampuan negara yang terdampak.

Tren penurunan Covid19 di Italia, Korsel dan Iran baru ditemui dipertengahan Q2 (Juli) 2020 namun penyebaran masif terjadi di tempat lain seperti Amerika, Afrika, India dan Indonesia pada Juni 2020 maka krisis ekonomi dunia seperti tahun 2007/2008 dapat terulang. Ini adalah prediksinya Doktor Doom yaitu Dr Nouriel Roubini pada Selasa 10 Maret lalu, meskipun ini adalah skenario over pesimistik. Nourile Roubini adalah ilmuwan krisis yang tepat memprediksi krisis lalu tahun 2007/2008.

Jika skenario ketiga yang terjadi maka pertumbuhan global turun 1.7-2.5% atau kehilangan 1.3-2.1 triliun USD.

Dampak ke Ekonomi Indonesia

Dalam skenario satu, ekonomi Indonesia dapat turun sebesar 0.1-0,4% PDB, dan sektor pariwisata akan merugi sebesar 1.7-3.4 juta USD atau sekitar Rp24-49 miliar bahkan dalam skenario dua, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat turun 1.4% PDB. Jika skenario satu yang terjadi dan stimulus ekonomi pemerintah berhasil diprakirakan Indonesia dapat tumbuh sekitar 5.0-5.4% sebagaimana prediksinya Bank Indonesia.

Namun jika skenario dua terjadi dan stimulus ekonomi pemerintah tidak berhasil mendukung daya beli maka ekonomi diprakirakan tumbuh dibawah 5% atau sekitar 4.5-4.9%.

Apabila Skenario ketiga terjadi dan stimulus ekonomi Indonesia terlalu kecil dan terlambat (too little-too late) maka Indonesia dapat saja bergabung dengan negara seperti Vietnam dan Hongkong yaitu krisis dan resesi ekonomi.

Kebijakan Pemerintah Saat Ini

Pemerintah melalui instrumen fiskalnya telah mengumumkan akan memberikan stimulus fiskal dua tahap yang dikenal stimulus fiskal jilid satu dan stimulus fiskal jilid 2.

Dalam stimulus fiskal jilid satu yaitu kementerian keuangan mengelontorkan hampir Rp10.5 Triliun untuk 7 program diantaranya adalah stimulus non pariwisata (sebesar Rp6.1 T) yang terdiri dari tambahan insentif/kartu sembako dan tambahan subsidi bunga perumahan; Stimulus pariwisata (sebesar Rp4.3 T) yang terdiri dari subsidi penerbangan, subsidi tarif PJP2U, subsidi harga avtur. realokasi DAK untuk 10 destinasi wisata utama, pembebasan pajak hotel dan restoran di 10 destinasi wisata utama.

Stimulus fiskal jilid dua mungkin akan dilakukan di Q2 2020 yang meliputi 8 aspek kemudahan diantaranya adalah penyederhanaan aturan/tata niaga ekspor, pengurangan pembatasan/tata niaga impor (khususnya bahan baku), percepatan proses impor untuk 500 importir, efisiensi proses logistik, aspek Stimulus Fiskal Rp 10T, penghapusan sementara PPh Badan UMKM, relaksasi bea masuk, penurunan tarif PPn dan subsidi pajak.

Bank Indonesia dan OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk menstimulasi kebijakan moneter dan perbankan yang ekspansif diantaranya menurunkan suku bunga 50 bps dan menurunkan GWM perbankan.

Koordindasi antara fiskal, moneter dan perbankan sangat diperlukan untuk memastikan sinergi stimulus dan tidak counter-produktif satu sama lain.

Namun jumlah stimulus fiskal sebesar Rp10,5 triliun di jilid satu dan sebesar Rp10T di jilid 2 dirasakan sangat kecil untuk ekonomi saat ini yang nilainya lebih dari Rp15,500 triliun.
Usulan Kebijakan untuk menghindari stimulus yang too little-too late.

Banyak analis yang khawatir bahwa otoritas Indonesia sebenarnya tidak punya banyak kemewahan untuk memberikan stimulus ekonomi. Kondisi defisit transaksi berjalan yang terus menerus, ketergantungan terhadap portofio asing dan terus menurunnya penerimaan negara khususnya dari penerimaan pajak menyebabkan ruang stimulus menjadi lebih kecil daripada stimulus fiskal tahun 2007/2008. Para analis juga menyampaikan bahwa stimulus tersebut too little and too late.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah bersama DPR dapat melakukan perubahan postur APBN 2020 dengan mengajukan R-APBN Perubahan 2020 dengan memperkaya belanja yang menjaga daya beli ekonomi domestik dan melengkapi strategi akselerasi pembiayaan di luar penerimaan pajak.

Penerimaan pajak Januari 2020 sebesar Rp80.22 triliun atau turun 6.72% (yoy) dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 (9.5%). Defisit pemerintah harus didesain dibiayai oleh pembiayaan jangka panjang yang tidak memberatkan Indonesia kemudian hari.

Disaat ekonomi turun, penerimaan pajak juga akan turun sehingga harus bersiap meningkatkan defisit anggaran pemerintah. Defisit diizinkan maksimal 3% PDB sesuai aturan yang berlaku kecuali aturan tersebut di relaksasi.

Jika diperlukan, Pemerintah atas persetujuan DPR dapat menghapuskan klausul defisit maksimal 3% dalam UU keuangan negara dalam kondisi ekonomi mendesak untuk dapat memberikan stimulus lebih besar lagi sesuai kemungkinan tiga skenario penyebaran virus corona di atas.

Achmad Nur Hidayat
Achmad Nur Hidayat


TERPOPULER