Trump Del of Century: Persekutuan Supremasi Hegemoni Judeo Christinanity Menguasi Duni

Sabtu, 29 Februari 2020 13:37

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah menerbitkan di East Room Gedung Putih apa yang disebut Deal of Century (DoC) atau proposal “damai” atas konflik Israel-Palestina pada Selasa 28 Januari 2019 lalu.

Peristiwa tersebut disaksikan oleh PM Israel “Bibi” Netanyahu tanpa kehadiran Petinggi Palestina. Itu sebabnya Deal of Century (DoC) disebut sebagai proyek politik murni untuk kebutuhan politik domestik Trump dan juga Netanyahu. Bukan untuk palestina.

Seluruh Presiden AS ingin sekali mewujudkan proposal damai antara Israel dan Palestina, oleh karena itu Trump juga ingin melakukannya. Bukan saja ingin menunjukan keunggulan pribadi Trump dan kepresidenan-nya tapi juga untuk memperkuat peradaban deep state AS di Timur Tengah.

Peneliti yang cermat akan memahami bahwa AS bukanlah bangsa ordinary, tapi AS difahami sebagai sebuah sistem kepemimpinan dari kekuatan peradaban seperti halnya Roma Empire, Byzantium Empire, dan Kekaisaran Ottoman.

Sebagai pemimpin dari sistem peradaban maka secara histori AS selalu berusaha untuk menanamkan visi peradaban unik tertentu-nya ke seluruh dunia yang jauh dari teritori batas nasionalnya.
AS secara santun mengatakan bahwa adalah benar visi universal kami (baca; AS) terikat dalam satu negara, namun secara tegas pengaruh nilai universal AS membentangkan ke seluruh dunia, sebagai takdir yang tak terelakkan dari kami (baca: AS).

Bagi pengamat geopolitik adalah tidak sulit untuk menyimpulkan Amerika secara politik ekonomi merupakan negara hegemoni dari prinsip pasar liberal, kapitalisme liberal, individualisme dan sistem laissez-faire dan secara peradaban AS adalah negara persekutuan Pax Judeo-Christiani.

Setelah memenangi perang dingin atas USSR (Uni Soviet), AS secara spektakuler menegaskan superioritas visi peradabannya melalui kekalahan dan kehancuran komunisme. Berakhirnya perang dingin Itu bukan hanya berarti kekalahan politik bagi Uni Soviet namun merupakan kemenangan paradigma budaya AS secara penuh. Kita menyebutnya sebagai single global power (kekuatan global satu-satunya).

Peristiwa deklarasi DoC pada selasa 28 Januari 2020 lalu tersebut akan menarik bila kita kaji dari sudut yang tidak dilihat sebagai sesuatu yang implisit tersamar tapi begitu terasa dirasakan.

Apa ini hubungannya dengan apa yang terjadi di Ruang Timur Gedung Putih Selasa ini? Yah, itu memberikan kita sudut pandang yang lebih baik untuk melihat sesuatu yang kurang jelas dari sekedar politik eksplisit untuk tontonan. Sesuatu yang lebih sering ‘merasa’, secara eksplisit dipertimbangkan.

Deal of Century (DoC) Trump tersebut adalah proyek yang dipengaruhi dengan proyek Yahudi Zionisme. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Netanyahu beberapa pekan lalu yaitu proyek yahudi zionisme adalah proyek bukan hanya membangun tatanan politik tapi proyek mewujudkan isi Al Kitab dalam Old Testament (Perjanjian lama) meski seolah-olah proyek yahudi zionisme tersebut merupakan proyek sekular.

Laurent Guyénot menyatakan bahwa proyek Zionisme adalah proyek Alkitab namun tidak berarti proyek tersebut sebagai pekerjaan religius. Zionisme juga dapat diperjuangkan oleh para Yahudi sekular. Untuk zionis sekular, Alkitab disatu sisi merupakan “narasi nasional”, disisi lain sebagai visi peradaban yang terikat dalam negara modern (israel).

Pemimpin pertama Israel, Ben-Gurion, bukan orang yang religius, ia tidak pernah pergi ke sinagog untuk ibadah, dan ia biasa makan daging babi untuk sarapan; namun ia menyatakan bahwa: “Saya percaya pada superioritas moral dan intelektual kita (baca: Israel) atas bangsa lain dan dalam kapasitas kita sebagai role model untuk melayani penebusan seluruh umat manusia “.

Ben-Gurion dapat dianggap contoh teladan bagi pemimpin Israel selanjutnya yaitu seseorang yang sekular namun berorientasi Alkitab pada urusan superioritas fisik dan pengetahuan israel (dua ambiguitas).

Namun Israel hari ini, tidak lagi sekuler seperti dulu, melainkan, israel menuju Yahweyism – atau tradisi hukum Ibrani tradisional. Netanyahu secara implisit beralih dari norma-norma sekular ke norma tradisi Ibrani tradisional. Tepatnya saat, Netanyahu menyatakan bahwa Ia adalah ‘pemimpin’, yang tidak seharusnya diganti dari kekuasaan melalui cara demokratik. Dengan kata lain, Israel menjadi lebih, tidak kurang, ‘Alkitab’ yaitu pemimpin adalah seumur hidup.

Netanyahu mengatakan kepada Trump: Terima Kasih Mr Presiden karena anda telah mengamankan takdir israel (You having secured Israel’s destiny). Menyiratkan makna bahwa Zionisme bukanlah gerakan nasional seperti bangsa lain, zionisme adalah takdir unggulan bangsa israel dalam taurat. Pengamat asal Israel Guyénot menulis karena nasib Israel dituangkan dalam Alkitab… Israel adalah bangsa yang sangat istimewa. Dan semua orang dapat melihat bahwa ia tidak memiliki niat menjadi bangsa biasa. Israel ditakdirkan untuk menjadi sebuah Emperium”.

Dalam Kitab Old Testament Chapter Isaiah (Ramalan Ilyasa) disebutkan bahwa akan hadir sebuah ‘Emperium” yang menggambarkan pada zaman mesianis bahwa Emperium Dunia adalah milik Pax Judaica, ketika “semua bangsa” akan membayar upeti ke gunung Yahweh, ke rumah Allah dari Yakub; ketika hukum dunia akan diterbitkan dari puncak gunung Sion dan dari firman Yahweh di Yerusalem; sehingga Yahweh akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan menjadi arbitrase (penengah) antara banyak bangsa.

Masih di Chapter Isaiah (Ilyasa) tertulis “Kekayaan laut akan mengalir ke Anda, kekayaan bangsa-bangsa datang kepada Anda” (60: 5); “Untuk bangsa dan kerajaan yang tidak akan melayani Anda akan binasa, dan bangsa-bangsa tersebut akan benar-benar hancur” (60:12); “Anda akan menyedot susu dari bangsa-bangsa, Anda akan menyedot kekayaan raja” (60:16); “Anda akan memakan kekayaan bangsa, Anda akan menggantikan mereka dalam kemuliaan mereka” (61: 5-6). Jadi sangat jelas bahwa Israel hari ini sedang mewujudkan textual tersebut.

Lantas apa arti penting kitab Isaiah tersebut dalam DoC, 28 Januari 2020 lalu? Kitab Isaiah tersebut diyakini oleh para penganut Yahudi dan Kristen Evangelis (Jesuit termasuk di dalamnya). Secara statistik ,1 dari 4 orang AS adalah penganut Evangelis, Trump memilih DoC versi tersebut untuk menyenangkan para pendukung konservatif evangelis-nya dan itu satu-satunya harapan agar dirinya terpilih kembali.

Titik terang dari DoC adalah bahwa proposal damai Israel-Palestina jelas bukan kesepatan solusi two-states (dua negara) melainkan untuk menyenangkan deep state Pax Judeo-Christianity dan pendukung evangelis-konservatif sebagai pemilih basic Trump nanti.

DoC sebenarnya tidak bicara solusi dua negara. Adalah keanehan bila Trump mendorong negara saingan (palestina) muncul karena itu akan menghambat jalan menuju Emperium Israel yang akan menjadi kekuatan peradaban yang dominan di Timur Tengah?

Jadi apa niatan DoC tersebut? Pertama ingin mengkondisikan Palestina. Dalam tahap pertama ini, Palestina ditekan untuk menerima bahwa mereka tidak memiliki alternatif, selain untuk memberikan kesetiaan kepada pemimpin sistem regional (yaitu Israel).

Kemudian pada tahap dua, untuk mengasimilasi negara Sunni sebagai wilayah (otonomi) subordinasi di bawah payung Pax Judaica (Israel). Itulah rancangan Emperium yang sedang berjalan sesuai ramalan tua lebih dari 4000 tahun (Isaiah) lalu.

Mungkin ramalan 4000 tahun tersebut tidak disadari oleh para pemimpin dan warga dunia non yahudi namun mereka yang hidup di AS khususnya pendukung dasar Trump yaitu para kaum kristen evangelist (satu dari setiap empat orang Amerika mengatakan mereka kristen-evangelist (25%) memiliki keinginan besar untuk melihat aktualisasi dari takdir Israel tersebut sebagai kebutuhan eskatologis;

Mereka pula (kaum evangelist) yang bersikeras pada pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem; mereka juga mendukung pernyataan Trump atas kedaulatan Israel di daratan tinggi Golan; mereka juga yang mendukung aneksasi permukiman palestina untuk Israel; dan mereka juga dibalik resignnya AS dalam nuklir deal dengan Iran dalam JCPOA (Joint Comprehensif Plan of Action, Iran Nuclear Deal).

Para evangelist tidak mungkin memilih Partai Demokrat, tetapi jika mereka abstain saja misalnya dalam pemilihan november mendatang, dapat dipastikan Trump terpilih kembali.

Kaum evangelist, tentu saja, sangat senang dengan DoC tersebut. Emperium peradaban Israel menurut evangelist meliputi antara tepi barat sungai Yordan dan sungai Nil. Aktualisasi nubuat ini bagi evangelist memiliki efek mempercepat kedatangan Al Masih versi Judeo-Christianity.

Dalam ilmu eskatalogi Islam, usaha evangelist tersebut termasuk realisasi dari manifesto Anti Al Masih (Al Masih Al Dajjal) yang melakukan deception seolah dirinya adalah Al Masih. Pengikut Al Dajjal itu senantiasa ingin merebut Al-Aqsha dari tangan muslim.

Dengan sudut pandang ini, kita akan memahami paradigma yang lebih luas tentang pax Judeo-Christianity. Para deep state AS saat ini memiliki budaya persekutuan Judeo-Christianity yang jelas. Mereka menyakini konsep serupa oxymoron dan mereka telah memodifikasi keimanan yang didoktrinkan Saint Paul bahwa Kekristenan (Christianity) seharusnya keluar dari hukum dasar dari Judeo (Yahudi) sebagai sesuatu yang tidak berlaku.

Pertanyaan adalah apakah yang mendorong para deep state AS tersebut secara halus menegasikan pandangan Saint Paul (Gereja) dan memilih menjadi lebih Ibrani (Yahudi) daripada lebih kristen? Ke arah mana inti visi AS akan dibawa?

Awalnya, pemimpin AS melihat Israel sebagai negara penerima nilai-nilai barat kristen yang paling baik (di hari-hari ketika elit Zionisme awal sebagian besar adalah sekuler). Namun, proposal DoC pada 28 Januari 2020 tersebut menunjukan telah terjadi titik balik besar AS mendukung persekutuan Judeo-Christianity sebagai visi ke depannya.

Mengapa nomenklatur Judeo-Christianity ada pada tempat prioritas? Bagaimana perubahan itu terjadi?

Setelah jatuhnya Roma, sekitar tahun 800, para pemimpin gereja bangsa Frank (daerah Perancis selatan dan sekitarnya) memilih berpaling ke Perjanjian Lama sebagai basis perang kebudayaan dengan sekte kristen utama di timur yaitu Kaum Ortodoks Kristen.

Bangsa Frank tersebut dilabeli oleh kaum Ortodoks sebagai kaum Greek yang memuja paganisme dan kemurtadan. Bangsa Frank tersebut suka memanfaatkan perjanjian lama untuk mensakralkan konsep Dei Gratia: bahwa Paus atau Kaisar memiliki kedaulatan ilahi. Itulah sebabnya Kaisar Holy Roman Empire (yaitu Charlemagne, Raja Bangsa Frank) rela dinobatkan oleh Paus Roma karena dirinya akan mendapatkan kesetiaan mutlak dari penduduk eropa. Kepindahan bangsa frank ke Judeo-Christianity tersebut memberi jalan bagi pesatnya feodalisme Eropa, penyiksaaan obliterasi bangsa Cathars sebagai hukuman contoh disiplin keilahian dan upaya perkenalan peradaban pax Judeo-Christianity di Timur Tengah pada periode militerisasi perang salib.

Kekristenan mereka dikenal dengan kristen barat (Roma) yang sangat meresapi tradisi tekstual ibrani (perjanjian lama) dan seiring perjalanan waktu kekuasaan mereka ditantang oleh bangsa utara (Jerman/Deutch) yang akhirnya tradisi pax Judeo-Christianity diwariskan di dalam Kristen Protestan.

Sementara kristen ortodoks berbasis di Byzantium (sekarang Istanbul) tetap setia otensitas perjanjian baru, menolak konsep Dei Gratia dan Menolak peradaban Pax Judeo-Christianity. Kondisi dua tipe Christianity tesebut akhirnya terbelah pada Great Schism tahun 1054. Kristen ortodoks kemudian berpindah ke wilayah Rusia karena serangan Ottoman ke Byzantium pada 1453.
Pada titik ini, budaya bangsa frank dahulu dan budaya bangsa AS modern adalah serupa. Demi kelanggengan kekuasan Empire nya, deep state AS memilih pax Judeo-Christianity sebagai inspirasi kebijakan luar negeri AS yang kontras dengan budaya Rusia Modern (yaitu Kristen Ortodoks).

Dengan perspektif yang luas seperti ini, kita dengan mudah menjelaskan kenapa Deep State AS melakukan operasi pembunuhan terhadap Qasem Soleimani Iran. Hal ini tidak lain bentuk penegasan AS sebagai Pemimpin Emperium pax Judeo-Christianity yang melindungi kepentingan Israel (Judeo)-nya.

Kita juga bisa memahami bagaimana kelompok kanan AS seperti Steve Banon tidak henti-hentinya menyuarakan pentingnya mempertahankan Heritage AS Judeo Christianity di Timur Tengah yaitu negara Israel. Mereka memandang proyek Israel sebagai upaya pemantapan kekuasaan pax judeo di timur tengah sebagai kemenangan peradaban bagi AS juga.

Perspektif ini juga membantu menjelaskan kenapa deep state AS dan evangelist membenci Iran karena Iran merepresentasikan halangan terbesar bagi Israel dalam mewujudkan hegemoni Pax Judaica (Yahudi) di timur tengah.

Kehancuran Iran (baik melalui perang atau dengan penyebaran corona virus) merupakan kemenangan peradaban Amerika dan Israel atas Islam yang hampir sama ketika perang dingin berakhir yaitu kemenangan peradaban AS atas komunisme.

Dengan perspektif pax judeo-christianity ini dapat dijelaskan dengan mudah bahwa penarikan diri Trump AS terhadap deal nuklir Iran adalah salah satu perjalanan menuju kemenangan AS menuju Pax Judeo-Christianity dalam menjaga status AS sebagai pemimpin sistem peradaban.

Oleh: Hidayat Matnoer
Pengamat Kebijakan Publik



TERPOPULER